Dinkes Kejar Target Ending AIDS, TBC dan Malaria 2030

9 hours ago 11

RADARSUKABUMI.COM – Upaya mengakhiri AIDS, Tuberkulosis (TBC) dan Malaria (ATM) di Kota Sukabumi tidak bisa hanya dibebankan kepada sektor kesehatan. Tantangan penyakit menular tersebut membutuhkan keterlibatan pemerintah, dunia usaha, organisasi masyarakat hingga berbagai elemen lainnya agar pencegahan dan pengendalian dapat berjalan lebih luas dan berkelanjutan.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Sukabumi, Ida Halimah mengatakan, penguatan kolaborasi menjadi salah satu kunci untuk mencapai target Ending AIDS, Tuberculosis, and Malaria 2030. Oleh karenanya, forum kemitraan tidak hanya diarahkan sebagai ruang pertemuan, tetapi harus menghasilkan dukungan dan langkah nyata dari berbagai pihak.

Hal tersebut mengemuka dalam Forum Kemitraan Pencegahan dan Pengendalian AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria (PP ATM) Kota Sukabumi Tahun 2026, yang digelar melalui kolaborasi Asosiasi Dinas Kesehatan Seluruh Indonesia (Adinkes), Pemerintah Kota Sukabumi melalui Bappeda, dan Dinas Kesehatan Kota Sukabumi

Forum tersebut melibatkan organisasi perangkat daerah non-Dinas Kesehatan, dunia usaha dan CSR, organisasi masyarakat, NGO/OMS, serta sejumlah pemangku kepentingan lainnya. Keterlibatan lintas sektor menjadi penting karena persoalan ATM tidak hanya berkaitan dengan pengobatan, tetapi juga menyentuh aspek sosial, ekonomi, lingkungan, perilaku, hingga akses masyarakat terhadap layanan kesehatan.

Menurut Ida, semakin banyak pihak yang terlibat, semakin besar pula peluang berbagai intervensi dapat dilakukan secara terpadu. Pemerintah daerah tidak mungkin bekerja sendiri, terlebih untuk menjangkau kelompok masyarakat dan lingkungan yang memiliki risiko berbeda-beda.

“ATM bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi tanggung jawab kita bersama. Karena itu, kemitraan lintas sektor harus diperkuat agar dukungan yang diberikan tidak hanya dalam bentuk program, tetapi juga kontribusi nyata untuk masyarakat,” ujar Ida.

Ia menambahkan, forum tersebut menjadi momentum untuk mengidentifikasi bentuk dukungan yang dapat diberikan masing-masing pihak. OPD, BUMN/BUMD, sektor swasta, CSR, NGO/organisasi masyarakat sipil, hingga kelompok masyarakat diharapkan dapat mengambil peran sesuai kapasitasnya.

Dukungan tersebut dapat diarahkan untuk memperkuat edukasi dan pencegahan, meningkatkan akses terhadap layanan, mendukung penemuan kasus serta pengobatan, hingga membantu mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap masyarakat yang terdampak.

“Yang kita harapkan bukan hanya komitmen di atas kertas. Ada rencana tindak lanjut dan kontribusi dari masing-masing mitra yang kemudian bisa kita sinergikan dengan program pemerintah daerah,” jelasnya.

Ida menilai pendekatan kolaboratif juga penting untuk memastikan program pengendalian AIDS, TBC, dan malaria tidak berjalan sendiri-sendiri. Setiap sektor memiliki sumber daya dan jaringan yang dapat saling melengkapi sehingga intervensi menjadi lebih efektif.

Dari sisi pemerintah, Dinas Kesehatan berperan dalam aspek teknis kesehatan. Sementara perangkat daerah lain dapat berkontribusi melalui kebijakan dan program sektoral, dunia usaha melalui CSR, serta organisasi masyarakat melalui edukasi, pendampingan, dan penguatan keterlibatan masyarakat.

Dengan pola tersebut, ia meyakini target Ending AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria 2030, diharapkan tidak berhenti sebagai target sektor kesehatan, tetapi menjadi agenda bersama Kota Sukabumi.

“Intinya kita bergerak bersama. Kalau seluruh pihak mengambil bagian sesuai perannya, maka upaya pencegahan dan pengendalian ATM akan jauh lebih kuat dan dampaknya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat,” tutup Ida. (ris)

Read Entire Article
Information | Sukabumi |