PROYEK FANTASTIS: Kondisi pembangunan Jalan Prana, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi, belum lama ini.(IST)RADARSUKABUMI.COM – Baru saja dibuka untuk dilintasi warga, proyek rekonstruksi Jalan Prana di Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi justru langsung ‘memamerkan’ cacat. Retakan badan jalan ditemukan di sejumlah titik pada proyek bernilai fantastis Rp2.176.586.797 tersebut.
Kemunculan retakan pada proyek bernilai miliaran rupiah yang dikerjakan CV Makmur Sentosa ini, sontak memantik gelombang kritik. Pasalnya, jalan yang mulai digarap sejak 10 Juli 2026 dan ditargetkan rampung 6 November 2026 mendatang ini dianggap sudah bermasalah padahal baru saja difungsikan.
Disentil Aktivis: Jangan Cuma Kejar Selesai Administratif!
Sekretaris Perisai Demokrasi Bangsa, Yuyu Yusinta mendesak pemerintah tidak merespons temuan ini dengan penjelasan normatif semata, melainkan wajib melakukan pemeriksaan teknis secara menyeluruh dan transparan.
“Pemeriksaan harus dilakukan sekarang, bukan menunggu sampai kerusakan semakin parah atau setelah proyek sepenuhnya selesai. Buka secara terang apakah retakan ini memicu masalah material, struktur tanah, struktur lapisan jalan, drainase, atau metode pengerjaannya, cuaca, beban kendaraan atau faktor teknis lainnya,” tegas Yuyu kepada Radar Sukabumi, Minggu (23/8).
Yuyu mengingatkan Pemkot Sukabumi agar tidak sekadar mengejar seremoni atau selesai tepat waktu di atas kertas, tetapi mengabaikan kualitas bangunan yang dibiayai uang rakyat tersebut.
“Jangan sampai pekerjaan dinyatakan selesai, sementara masih ada persoalan fatal yang dibiarkan. Jika tidak sesuai spesifikasi, wajib diperbaiki!” tandasnya.
Yuyu menilai, apabila hasil pemeriksaan menemukan pekerjaan tidak sesuai spesifikasi, pihak yang bertanggung jawab harus melakukan perbaikan sesuai ketentuan. Masyarakat pun berhak mengetahui hasil evaluasi terhadap proyek yang menggunakan anggaran publik tersebut.
“Pembangunan infrastruktur bukan hanya mengenai bagaimana sebuah proyek dapat selesai tepat waktu. Yang harus menjadi ukuran adalah apakah hasil pembangunan tersebut berkualitas, aman, kuat dan mampu memberikan manfaat dalam jangka panjang,” tandasnya.
Kadis DPUTR Pasang Badan: Belum Peresmian, Kami Bongkar 5 Meter!
Menjawab tudingan tersebut, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kota Sukabumi, Sony Hermanto menegaskan bahwa Jalan Prana belum diserahterimakan dan belum 100 persen selesai.
“Untuk pekerjaan Prana masih belum beres, jadi belum 100 persen beres,” timpal Sony.
Sony mengklarifikasi bahwa pembukaan jalan tempo hari bukanlah acara peresmian, melainkan uji coba fungsional atas desakan warga yang butuh akses melintas.
Mengenai retakan di titik STA 125, Sony menjelaskan hal itu secara teknis teridentifikasi sebagai plastic shrinkage cracks akibat penguapan air beton yang terlalu cepat sebelum proses pengerasan awal berlangsung sempurna, ditambah adanya beban lalu lintas.. Kendati secara aturan Bina Marga retak halus bisa ditangani dengan sejumlah metode perbaikan, pihaknya memilih langkah radikal demi kualitas.
“Sebagai standar kualitas pekerjaan dan pelayanan publik, penyedia jasa konstruksi sepakat untuk membongkar segmen jalan yang mengalami retak tersebut dan melakukan pengecoran ulang menggunakan spesifikasi yang sama,” terangnya.
Perbaikan akan dilakukan pada segmen sepanjang sekitar lima meter. Langkah tersebut, sekaligus menunjukkan bahwa pemerintah tidak ingin persoalan kualitas dibiarkan meskipun secara teknis retakan masih dapat ditangani dengan sejumlah metode perbaikan.
Sony menjelaskan, berdasarkan Spesifikasi Umum 2025 Bina Marga, penanganan retak pada perkerasan beton semen tidak selalu harus dilakukan dengan membongkar seluruh pelat. Metode perbaikan bergantung pada kedalaman, tingkat keparahan, pola retakan hingga kondisi struktural beton. Namun, untuk Jalan Prana, pihaknya memilih penanganan secara menyeluruh pada bagian yang mengalami retak. “Ringkasan peraturan, kondisi yang ada di posisi satu, perbaikan yang dilaksanakan menyeluruh di posisi empat,” tambahnya.
Selain persoalan retakan, pekerjaan Jalan Prana juga masih menyisakan sejumlah pekerjaan lainnya. Di antaranya pekerjaan oprit atau pelandaian di empat titik serta perapihan pekerjaan sekunder di beberapa lokasi. Karena itu, dibukanya akses Jalan Prana untuk masyarakat bukan berarti proyek tersebut telah selesai dan diserahterimakan secara keseluruhan.
“Untuk informasi, kegiatan tadi bukan peresmian, tetapi fungsional akses jalan. Ini karena banyaknya permintaan dari masyarakat untuk segera menggunakan akses jalan tersebut, dan kegiatan masih berlangsung atau on progress,” imbuhnya.
DPUTR pun mengapresiasi perhatian masyarakat dan media yang ikut mengawal pembangunan tersebut. Menurut Sony, pengawasan publik merupakan bagian penting dalam memastikan setiap pekerjaan yang menggunakan uang negara memberikan manfaat maksimal. “Kami mengapresiasi tinggi kepedulian serta peran aktif masyarakat dan media yang turun mengawal transparansi kualitas pembangunan infrastruktur ini,” ucapnya.
Ia menegaskan, pemerintah tidak ingin anggaran publik hanya menghasilkan infrastruktur yang terlihat baik ketika pertama kali dibuka. Lebih dari itu, proyek harus mampu memenuhi aspek keamanan, kualitas dan ketahanan dalam jangka panjang. “Kami berkomitmen bahwa anggaran publik harus berwujud infrastruktur kualitas terbaik, aman dan tahan lama,” tandasnya. (bam)






























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5566130/original/037654700_1777115193-Nnicgi2v3KAezF9tDS92s4.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5579725/original/015072000_1778068987-IMG_8757.jpeg)















