Kisah Nurdiansyah, Paskibraka SMAN 4 Sukabumi yang Kawal Merah Putih

6 hours ago 13

SUKABUMI – Menjadi bagian dari Paskibraka Kota Sukabumi pada peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi pengalaman berharga bagi Nurdiansyah Maulana. Siswa SMAN 4 Sukabumi itu dipercaya menjalankan tugas penting dalam upacara tingkat Kota Sukabumi.

Nurdiansyah bertugas sebagai pembuka tiang saat pengibaran bendera dan Pasukan 17 saat penurunan bendera. Kepercayaan tersebut dijalankan dengan penuh tanggung jawab setelah melalui rangkaian latihan yang panjang, disiplin, dan penuh tantangan.

Bagi Nurdiansyah, menjadi Paskibraka bukan sekadar berdiri tegap di lapangan. Ada amanah besar yang harus dijalankan karena dirinya membawa nama keluarga, sekolah, dan daerah.

“Jujur, saya merasa sangat bangga di umur 16 tahun saya bisa ikut mengabdi kepada negara dan bersyukur bisa mengharumkan nama orang tua. Buat saya, ini bukan cuma tentang berdiri di lapangan, tapi juga sebuah tanggung jawab besar karena saya membawa nama sekolah dan daerah,” ujar Nurdiansyah

Tugas sebagai pembuka tiang saat pengibaran bendera memiliki arti tersendiri bagi Nurdiansyah. Meski terlihat sederhana, posisi tersebut membutuhkan konsentrasi dan ketepatan karena menjadi bagian dari rangkaian Pasukan 8.

“Bagi saya, tugas sebagai pembuka tiang itu punya arti yang sangat besar. Walaupun kelihatannya sederhana, posisi tersebut tetap menentukan kelancaran proses pengibaran, terutama di Pasukan 8. Jadi saya merasa harus benar-benar fokus dan bertanggung jawab,” katanya.

Saat mengetahui dirinya dipercaya menempati posisi tersebut, Nurdiansyah mengaku bahagia sekaligus sempat merasa gugup. Apalagi, untuk menjadi bagian dari Pasukan 8, ia harus bersaing secara sehat dengan teman-temannya.

“Awalnya pastinya bahagia, cukup kaget juga karena ini tanggung jawab yang besar dan sebenarnya ada rasa gugup juga. Tapi setelah itu saya berpikir bahwa kalau saya sudah dipercaya, berarti saya harus memberikan yang terbaik dan tidak boleh menyia-nyiakan kepercayaan tersebut,” tuturnya.

Perjalanan Nurdiansyah di dunia Paskibra dimulai sejak duduk di bangku SMP. Ketertarikannya tumbuh setelah sering menyaksikan penampilan Paskibraka tingkat pusat melalui televisi.

Keinginan tersebut kemudian diwujudkan dengan mengikuti ekstrakurikuler Paskibra sejak kelas 7 SMP hingga SMA. Dari kegiatan itu, Nurdiansyah mendapatkan dasar Peraturan Baris-Berbaris (PBB), kedisiplinan, kekompakan, dan pengalaman bekerja dalam tim.

“Sebelumnya saya sering melihat Paskibraka tingkat pusat di TV. Dari situ mulai ada ketertarikan kepada Paskibraka. Sebelum menjadi Paskibraka, saya dari SMP kelas 7 hingga SMA mengikuti ekstrakurikuler Paskibra di sekolah yang membuat saya punya basic PBB,” ungkapnya.

Dukungan orang tua juga menjadi salah satu kekuatan Nurdiansyah dalam mengikuti proses seleksi hingga akhirnya dipercaya menjadi bagian dari Paskibraka Kota Sukabumi

Persiapan menuju upacara HUT ke-81 RI dijalani Nurdiansyah bersama anggota Paskibraka lainnya melalui latihan intensif.Materi latihan tidak hanya mencakup baris-berbaris, tetapi juga kekompakan, kedisiplinan, kondisi fisik, jiwa korsa, serta latihan teknis sesuai tugas masing-masing.

Untuk menjaga kondisi tubuh, Nurdiansyah berusaha mendapatkan istirahat yang cukup, menjaga asupan makanan dan minuman, serta mengikuti latihan dengan serius.

Sementara untuk menjaga mental, ia selalu mengingat tujuan awal mengikuti Paskibraka dan berusaha berpikir positif ketika menghadapi rasa lelah atau tekanan.

“Saya berusaha menjaga kondisi dengan istirahat yang cukup, makan dan minum dengan baik, serta mengikuti latihan dengan serius. Untuk mental, saya lebih banyak mengingat tujuan awal saya ikut Paskibraka dan selalu berusaha berpikir positif ketika merasa lelah atau tertekan,” katanya.

Ada satu hal sederhana yang menjadi sumber semangat Nurdiansyah ketika rasa lelah mulai datang. Ia membawa foto sang ibu selama menjalani proses latihan.

“Untuk mental, saya membawa foto mama saya yang bisa membuat saya kembali semangat di kala lelah,” ujarnya.

Rasa gugup menjadi hal yang wajar ketika harus menjalankan tugas di hadapan banyak orang. Terlebih, Nurdiansyah sadar bahwa dirinya membawa nama SMAN 4 Sukabumi dan Kota Sukabumi.

Untuk mengendalikan rasa gugup, ia memiliki cara sederhana. Selain mengatur napas, Nurdiansyah mencoba menenangkan diri dengan bernyanyi atau memikirkan hal-hal lucu.

“Pasti ada rasa gugup, apalagi ketika tahu banyak orang yang melihat dan kita membawa nama sekolah serta daerah. Cara saya mengatasinya adalah dengan menenangkan diri dengan bernyanyi lagu random atau memikirkan hal lucu yang membuat saya lebih tenang dan dengan mengatur napas,” ungkapnya.

Saat menjalankan tugas sebagai pembuka tiang, fokus, ketepatan gerakan, dan kemampuan mengikuti aba-aba menjadi hal utama yang diperhatikan.

Menurutnya, setiap anggota harus mampu mengendalikan diri dan tidak panik karena satu kesalahan kecil dapat memengaruhi jalannya prosesi pengibaran.

Selain menjadi pembuka tiang saat pengibaran, Nurdiansyah juga mendapat kepercayaan sebagai Pasukan 17 saat penurunan bendera.

Ia mengakui kedua tugas tersebut memiliki tantangan berbeda. Saat pengibaran, fokus utamanya adalah memastikan tugas pembuka tiang berjalan sesuai aba-aba. Sementara saat penurunan, ia harus lebih memperhatikan kekompakan formasi dan ketepatan gerakan.

“Menurut saya, keduanya punya tantangan masing-masing. Saat pengibaran, saya lebih fokus pada tugas sebagai pembuka tiang dan memastikan semuanya berjalan sesuai aba-aba. Sedangkan saat penurunan, sebagai Pasukan 17 saya harus lebih memperhatikan kekompakan formasi dan ketepatan gerakan,” jelasnya.

Setelah melewati latihan panjang dan melelahkan, Nurdiansyah akhirnya dapat menyelesaikan seluruh tugas dengan baik.

“Rasanya bangga sekaligus haru. Karena setelah melewati proses latihan yang cukup panjang, akhirnya saya bisa menjalankan tugas sampai selesai. Di situ saya merasa semua rasa lelah selama latihan benar-benar terbayarkan,” katanya.

Ketika berdiri di lapangan membawa nama sekolah dan daerah, Nurdiansyah merasakan kebanggaan yang sekaligus diiringi tanggung jawab besar.

“Rasanya bangga sekali, tapi di sisi lain juga ada tanggung jawab yang besar. Ketika berdiri di lapangan, saya sadar bahwa saya bukan hanya membawa nama diri sendiri, tapi juga nama sekolah, keluarga, dan daerah. Jadi saya berusaha memberikan penampilan terbaik sebagai bentuk rasa hormat dan tanggung jawab atas kepercayaan yang diberikan,” pungkasnya.(wdy)

Read Entire Article
Information | Sukabumi |