Ranty Rachmatillah: Pentingnya Ruang Aman bagi Korban Kekerasan dan Perundungan

6 hours ago 8
Ketua TP PKK Kota Sukabumi, Ranty RachmatillahKetua TP PKK Kota Sukabumi, Ranty Rachmatillah

CIKOLE – Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, perundungan (bullying), hingga persoalan kesehatan mental masih menjadi tantangan serius yang dihadapi masyarakat saat ini. Fenomena tersebut tidak hanya meninggalkan luka fisik, tetapi juga dapat menimbulkan trauma berkepanjangan yang memengaruhi masa depan korban.

Ketua TP PKK Kota Sukabumi, Ranty Rachmatillah, menilai berbagai bentuk kekerasan dapat terjadi kepada siapa saja tanpa memandang usia, jenis kelamin, maupun latar belakang sosial ekonomi. Karena itu, diperlukan kesadaran bersama untuk menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi para korban agar berani berbicara serta mendapatkan pertolongan yang dibutuhkan.

Menurutnya, salah satu persoalan yang masih kerap terjadi adalah kecenderungan masyarakat untuk menghakimi korban dibanding memahami kondisi yang mereka alami. Padahal, korban kekerasan maupun perundungan membutuhkan dukungan moral, pendampingan, dan ruang aman untuk memulihkan diri dari trauma yang dialami.

“Korban tidak membutuhkan penghakiman, tetapi membutuhkan orang-orang yang mau mendengarkan, memahami, dan mendampingi mereka untuk bangkit. Dukungan keluarga dan lingkungan menjadi faktor penting dalam proses pemulihan,” ujar Ranty kepada Radar Sukabumi, pada Jumat (19/6).

Ia menjelaskan, dampak kekerasan dan perundungan sering kali tidak terlihat secara langsung. Banyak korban yang memendam luka batin dalam waktu lama hingga berpengaruh terhadap kesehatan mental, rasa percaya diri, hubungan sosial, bahkan masa depan mereka.

“Jadi upaya pencegahan tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Peran keluarga sebagai lingkungan pertama bagi anak sangat penting dalam membangun ketahanan mental dan karakter. Orang tua perlu lebih peka terhadap perubahan perilaku anak serta membangun komunikasi yang terbuka agar berbagai persoalan dapat diketahui sejak dini,” jelasnya.

Selain keluarga, lanjut Ranty sekolah dan lingkungan sosial juga memiliki tanggung jawab yang sama dalam mencegah terjadinya kekerasan dan perundungan. Budaya saling menghormati, empati, dan kepedulian harus terus ditanamkan agar tercipta lingkungan yang sehat dan ramah bagi semua.

Ia menegaskan kolaborasi antara pemerintah, lembaga sosial, dunia pendidikan, komunitas, dan masyarakat menjadi kunci dalam membangun kesadaran bersama terhadap pentingnya perlindungan perempuan dan anak serta kesehatan mental.

“Masa lalu mungkin tidak bisa diubah, tetapi setiap orang memiliki kesempatan untuk memperjuangkan masa depannya. Karena itu, mari hadir sebagai bagian dari solusi, bukan menjadi pihak yang menambah beban bagi korban,” tegasnya.

Ia berharap semakin banyak masyarakat yang berani peduli terhadap kondisi di sekitarnya, tidak menutup mata terhadap kasus kekerasan maupun perundungan, serta berani mengambil langkah untuk melindungi dan mendampingi korban.

“Dengan meningkatnya kepedulian kolektif, Kota Sukabumi diharapkan dapat menjadi lingkungan yang lebih aman, inklusif, dan ramah bagi perempuan, anak, serta seluruh masyarakat yang membutuhkan dukungan dan perlindungan,” pungkasnya. (ris)

Read Entire Article
Information | Sukabumi |