Dahlan Iskan
Saya minta penanya yang angkat tangan itu naik ke panggung. Saya minta dia berdiri di sebelah saya. Harga Diri
“Anda pilih saja salah satu rekan kerja Anda. Jadikan dia/ia pesaing. Anda sebut namanyi/nya dalam hati. Jangan Anda ucapkan nama itu kepada siapa pun”.
Masih ada kalimat lanjutannya: “Katakan dalam hati: ‘saya harus lebih hebat dari dia/ia’. Saya akan tunjukkan bahwa saya bisa kerja lebih baik dari dia/ia”.
Wanita muda itu terlihat tidak puas mendengar pendapat saya itu. Dia cantik meski tanpa make-up sama sekali. Tinggi. Langsing. Sawo matang. Kalau saja dia ikut perawatan wajah, pastilah paling tidak 5i.
Dia berani membantah saya. “Tidak mungkin. Semua rekan kerja saya lulusan top ten university di Indonesia,” katanyi.
Minggu hari ini dia diwisuda menjadi sarjana S-1 Universitas Terbuka –bersama 500 lebih wisudawan dari UT Surabaya. Mereka menghadiri semacam pembekalan untuk hidup setelah lulus S-1.
Dia juga mengatakan semua rekan kerjanyi laki-laki. Hanya dia yang Kartini. Perusahaannyi bergerak di bidang processing tembakau.
Berarti saat mulai bekerja di situ dia pakai ijazahnya SMA. Dari situ saja saya bisa menduga bahwa dia istimewa: lulusan SMA bisa satu rekan kerja dengan para alumnus top ten university.
Bahwa dia memutuskan sambil bekerja masih mau kuliah itu pun juga menunjukkan kemauan belajar yang baik.
Tapi kenapa dia merasa begitu minder?
Saya pun ingat acara Disway Malang dan Perwosi Kota Batu Minggu pagi lalu. Acaranya di kota wisata Batu. Resminya: menyongsong Hari Kartini. Tiga pembicara Kartini ditampilkan: seorang wanita karir (Dr Ira Puspadewi), wanita pengusaha roti yang sukses Mulyani Hadiwijaya (Dea Bakery), dan wanita akademisi (rektor UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang).
Saya dijepit para wanita itu sebagai moderator.
Mulyani Hadiwijaya (Dea bakery), Rektor UIN Maliki Prof Ilfi Nur Diana, Ridha Heli Suyanto (istri wakil wali kota Batu), dan Ira Puspadewi di acara Kartini Talk Show Hari Kartini bertema Strong Woman, Strong Nation di Batu, 12 April 2026.–
Di acara menjelang wisuda UT kemarin itu saya ingat yang terjadi di Batu. Terutama presentasi Ira –mantan direktur utama ASDP yang mendapat rehabilitasi oleh Presiden Prabowo Subianto sehingga terbebas dari kriminalisasi.
Hari itu Ira memaparkan hasil penelitiannyi tentang perempuan Indonesia.
Kata Ira: perempuan Indonesia itu selalu memberi nilai-diri lebih rendah dari pada kemampuan sebenarnya yang mereka miliki.
Misalnya: Seorang perempuan ditanya “berapa nilai kemampuan Anda? Skala 1 sampai 10 di level berapa?”
Maka, kata Ira, perempuan Indonesia akan mengatakan kemampuan mereka di level tujuh. Padahal dalam kenyataannya kemampuan mereka di level delapan. Sebaliknya laki-laki. “Ngakunya punya kemampuan 9 tapi setelah bekerja di lapangan ternyata hanya mampu 7,” katanyi.
Ira sendiri sudah membuktikan bisa berkarir di perusahaan Amerika sampai ke tingkat pimpinan Asia-Pasifik. Lalu ketika menjabat dirut ASDP bisa membuat perusahaan angkutan ferry milik BUMN itu menjadi yang terbaik dalam sejarahnya. Baru sekali itu ASDP –yang sangat laki-laki– dipimpin seorang dirut perempuan.
Saya setuju dengan hasil penelitian Ira itu. Maka saya pun ingin menjadikan pendapat Ira tersebut sebagai topik utama peringatan Hari Kartini tahun ini: wanita Indonesia tidak boleh lagi ”menjatuhkan harga diri” lebih rendah dari harga pasar.
Saya pun minta kepada wisudawan lima i di UT tadi untuk mengubah cara berpikir. Saat itu juga. Saya juga minta padanyi segera menetapkan siapa rekan kerjanyi yang harus dikalahkannyi.
“Jangan langsung pilih pesaing dari level juara. Pilih dulu mereka yang di urutan terbaik kelima. Kalau sudah berhasil baru memilih pesaing yang baru dari level tiga terbaik. Dan seterusnya”.
“Bisa?” tanya saya kepadanyi.
“Bisa!” jawabnyi, mantap.
Dia wanita hebat. Saya ingin bisa bertemu dia lagi dua tahun mendatang. Tapi saya lupa namanyi. Juga tidak minta nomor kontaknyi.
Saya sendiri mempraktikkan prinsip itu di dunia nyata. Di forum di Batu itu misalnya, saya lihat ada wanita di deretan kursi depan. Muda. Cantik. Lima i. Wajahnyi menggambarkan sebagai wanita yang percaya diri. Namanyi: Ridha Heli Suyanto. Dia istri wakil wali kota Batu yang juga ketua Perwosi Kota Batu.
Ternyata Ridha memang lulusan S-2 teknik elektro Universitas Brawijaya Malang. S-1 nyi pun teknik elektro. Arus kuat.
Maka saya memutar otak: di level berapa kira-kira kemampuannyi. Saya yakin dia punya kemampuan di level delapan. Maka muncullah keinginan saya yang tiba-tiba: saya ingin tes dia. Di level berapa kenyataannya.
“Ini kan acara Hari Kartini. Terasa lucu kalau moderatornya laki-laki seperti saya. Maka saya mohon agar Bu wakil wali kota Batu,” kata saya sambil menunjuk dirinyi, “untuk naik panggung menjadi moderator menggantikan saya”.
Saya pun turun dari panggung. Dari kursi deretan belakang peserta seminar, saya mengamati kemampuannyi dalam memimpin tanya jawab.
Benar: delapan.
Hidup Kartini masa kini! (Dahlan Iskan)






























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5515320/original/063647700_1772170133-dokumentasi.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5503087/original/002679900_1771083848-Dancow_Indonesia_Cerdas_1.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4013597/original/031370100_1651622000-krists-luhaers-AtPWnYNDJnM-unsplash_1_.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5454271/original/095674700_1766555170-santa-1058671_1280.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4915603/original/086439000_1723438542-Foto_2_-_Superbank_Raih_1_Juta_Nasabah.jpeg)





