Fondasi Transformasi Ekonomi Jawa Barat Berbasis Data

8 hours ago 8
Dhading Mahendra

Oleh: Dhading Mahendra, SST., M.E.K.K

PROVINSI Jawa Barat sejak lama dikenal sebagai jantung industri manufaktur Indonesia. Dari kawasan industri Bekasi, Karawang, Purwakarta, Subang hingga Sukabumi, setiap hari jutaan produk tekstil, elektronik, kendaraan bermotor, hingga makanan dan minuman diproduksi. Aktivitas ini menciptakan multiplier effect yang luas, menggerakkan roda perekonomian daerah sekaligus menopang pertumbuhan nasional.

Dominasi manufaktur terlihat jelas dalam struktur ekonomi Jawa Barat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kontribusi industri pengolahan terhadap PDB nasional konsisten di kisaran 18–19 persen. Di Jawa Barat, peran sektor ini bahkan mencapai 40,41 persen PDRB atau senilai Rp 762,103 triliun pada 2025. Lebih dari itu, manufaktur menjadi sumber pertumbuhan terbesar dengan kontribusi 1,2 persen dari total pertumbuhan ekonomi Jawa Barat sebesar 5,32 persen (yoy). Fakta ini menegaskan: manufaktur adalah penggerak utama nilai tambah daerah.

Namun, pertanyaan mendasar muncul: bagaimana memastikan kebijakan pembangunan industri benar-benar sesuai dengan kebutuhan riil di lapangan? Jawabannya hanya satu—data yang akurat.

Di era transformasi digital, data bukan sekadar angka, melainkan aset strategis. Negara maju merumuskan kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy). Pemangku kepentingan membutuhkan informasi detail: jumlah perusahaan, karakteristik usaha, penggunaan teknologi, tenaga kerja, hingga tantangan yang dihadapi. Tanpa data berkualitas, kebijakan berisiko meleset dari sasaran.

Di sinilah Sensus Ekonomi 2026 berperan. Pendataan menyeluruh terhadap seluruh pelaku usaha ini akan memberikan gambaran lengkap struktur ekonomi nasional maupun daerah. Bagi Jawa Barat, hasil sensus menjadi pijakan penting dalam merancang kebijakan industri: pengembangan kawasan, peningkatan investasi, penguatan rantai pasok, hingga penyediaan tenaga kerja sesuai kebutuhan.

Investasi dan ekspor Jawa Barat dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren positif. Realisasi investasi 2025 mencapai Rp 296,8 triliun—109,9 persen dari target—dengan dominasi sektor manufaktur. Nilai ekspor pun menembus USD 38,72 miliar, dengan 98,7 persen berasal dari industri. Angka ini menegaskan posisi strategis manufaktur sebagai pencipta lapangan kerja sekaligus motor pertumbuhan ekonomi.

Meski demikian, tantangan semakin kompleks. Revolusi industri 5.0 menuntut penerapan teknologi canggih seperti Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), dan robotika. Perkembangan ini menuntut kebijakan berbasis data detail: persebaran industri, skala usaha, produktivitas, hingga tingkat adopsi teknologi. Tanpa itu, strategi pembangunan berisiko tertinggal.

Manfaat sensus tidak hanya bagi pemerintah, tetapi juga dunia usaha. Informasi tentang struktur ekonomi, peluang pasar, distribusi usaha, hingga arah investasi akan membantu pelaku bisnis mengambil keputusan lebih tepat. Namun, kualitas data sangat bergantung pada partisipasi aktif responden. Informasi yang jujur, lengkap, dan tepat waktu akan menghasilkan statistik yang akurat. Kerahasiaan data dijamin oleh Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1997 tentang Statistik, sehingga pelaku usaha tidak perlu khawatir.

Pada akhirnya, kebijakan ekonomi Jawa Barat hanya akan tepat bila berpijak pada data yang akurat. Sensus Ekonomi 2026 adalah fondasi penting bagi transformasi ekonomi Jawa Barat—membangun iklim industri manufaktur yang produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan.(*)

Read Entire Article
Information | Sukabumi |