Bukan Cuma Ngatur Macet, Ini Sisi Lain Petugas Dishub Kota Sukabumi yang Jarang Orang Tahu

5 hours ago 10

RADARSUKABUMI.COM – Di tengah hiruk-pikuk jalan raya, suara peluit petugas dan padatnya aktivitas mengatur lalu lintas ada irama lain yang tumbuh dari lingkungan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Sukabumi. Bukan suara kendaraan atau deru mesin, melainkan alunan angklung yang dimainkan para pegawai Dishub.

Garis Nurbogarullah, Sukabumi

Kelompok tersebut bernama Angklung Dishub Araha 52. Nama Araha diambil dari alamat kantor Dishub Kota Sukabumi di Jalan Arif Rahman Hakim Nomor 52. Kelompok ini lahir dari gagasan sederhana mengisi waktu di sela tugas dengan kegiatan seni sekaligus menghadirkan warna berbeda dari para aparatur yang sehari-hari bekerja di lapangan.

Sekretaris Dishub Kota Sukabumi, Hendry Iman Hermansyah, menuturkan, ide membentuk kelompok angklung muncul bersama Kepala Dishub Kota Sukabumi, Iskandar Ifhan dan sejumlah pegawai yang memiliki ketertarikan terhadap seni musik.

Awalnya, kata Hendry, kegiatan tersebut hanya dimaksudkan sebagai hiburan sampingan. Namun, dari latihan sederhana itu justru muncul kekompakan yang kemudian berkembang menjadi sebuah kelompok seni.

“Awalnya kita hanya iseng-iseng membuat grup angklung untuk mengisi kegiatan di sela tugas pokok dan fungsi. Pak Kadis, saya, dan beberapa staf memang punya keahlian masing-masing. Selain vokal grup, akhirnya kita mencoba membentuk kelompok angklung,” ujar Hendry.

Menariknya, kelompok ini tidak membutuhkan waktu panjang untuk berani tampil di hadapan publik. Penampilan perdana mereka berlangsung di Gedung Juang saat Kota Sukabumi menerima kunjungan puluhan duta besar dari berbagai negara.

Persiapan ketika itu terbilang singkat. Para pegawai Dishub hanya menjalani latihan sekitar tiga hari sebelum tampil. Namun, keterbatasan waktu justru menjadi tantangan yang membuat mereka semakin kompak. Dari sana, Angklung Dishub Araha 52 mulai menemukan bentuknya.

Membentuk kelompok angklung dari lingkungan birokrasi tentu bukan perkara mudah. Dishub Kota Sukabumi memiliki banyak pegawai dengan tugas dan kesibukan masing-masing. Tidak semuanya memiliki pengalaman memainkan alat musik tradisional.

Karena itu, proses pembentukan dilakukan melalui seleksi sederhana dengan melihat minat dan kesediaan pegawai untuk bergabung.

“Dari sekitar 198 pegawai Dinas Perhubungan Kota Sukabumi, kita coba seleksi siapa yang berminat dan ingin bergabung. Alhamdulillah, hampir 50 personel akhirnya terbentuk menjadi tim angklung,” kata Hendry.

Sekitar 50 pegawai tersebut kemudian berlatih bersama di bawah arahan Dedi, seorang pelaku seni di Kota Sukabumi yang memiliki pengalaman dalam membina permainan angklung.

Menurut Hendry, kehadiran pelatih membuat kemampuan para pegawai berkembang lebih cepat. Antusiasme anggota juga menjadi modal penting karena sebagian besar bergabung bukan karena tuntutan pekerjaan, melainkan karena ketertarikan terhadap seni.

“Alhamdulillah antusiasnya sangat positif. Kita dilatih oleh Pak Dedi yang memang salah satu tokoh seni di Kota Sukabumi,” tuturnya.

Bagi Hendry, keberadaan Angklung Dishub Araha 52 tidak berhenti pada aktivitas hiburan. Ada misi yang lebih besar, yakni ikut memperkenalkan dan merawat kesenian Sunda, khususnya angklung.

Angklung sendiri telah menjadi bagian penting dari identitas budaya Sunda. Karena itu, menurut Hendry, pelestarian kesenian tradisional tidak harus selalu dilakukan oleh komunitas seni. Instansi pemerintah pun dapat mengambil peran dengan caranya masing-masing.

“Angklung ini salah satu warisan budaya yang harus kita lestarikan. Kenapa tidak Dinas Perhubungan menjadi pelopor seni Sunda, khususnya angklung, yang ada di Kota Sukabumi,” ujarnya.

Gagasan itu pun mendapat sambutan positif dari sejumlah pihak. Kehadiran kelompok angklung di lingkungan Dishub menjadi bukti bahwa pelestarian budaya dapat tumbuh dari berbagai ruang, termasuk dari kantor pemerintahan.

Aktivitas tersebut sekaligus memperlihatkan sisi lain para pegawai Dishub. Di balik seragam dan rutinitas mengatur transportasi, mereka memiliki ruang untuk berekspresi, bekerja sama, dan menjaga kebersamaan melalui musik tradisional.

Angklung Dishub Araha 52 tidak memiliki jadwal latihan rutin setiap pekan. Latihan biasanya dilakukan ketika mereka mendapatkan agenda untuk tampil.

Jika akan tampil, latihan dipersiapkan minimal dua minggu sebelum hari pelaksanaan. Materi lagu pun menyesuaikan acara, termasuk permintaan dari penyelenggara.

Dalam sejumlah penampilan, mereka membawakan tiga hingga lima lagu. Bahkan pada momentum peringatan HUT Kemerdekaan, jumlah lagu yang dibawakan bisa lebih banyak.

“Kalau mau tampil, biasanya minimal dua minggu sebelumnya kita mulai latihan. Lagu-lagunya juga disesuaikan dengan acara atau request. Biasanya tiga sampai lima lagu,” jelas Hendry.

Latihan sebisa mungkin tidak mengganggu tugas utama para pegawai. Biasanya latihan dilakukan selepas jam kerja, sekitar pukul 17.30 hingga 19.00 WIB. Sementara gladi bersih dapat dilakukan pada akhir pekan, termasuk setelah kegiatan Car Free Day.

Menariknya, semangat bermusik juga menular kepada jajaran pimpinan. Dalam momentum 17 Agustus, para ibu kepala dinas turut bergabung dan ikut berlatih bersama tim.

“Bahkan kemarin saat 17 Agustus, Ibu Ibu Kadis ikut memeriahkan. Beliau juga mau bergabung dan berlatih. Ini menunjukkan bahwa dengan kesibukan sebagai kepala dinas pun masih bisa meluangkan waktu untuk seni,” katanya.

Hendry yang dipercaya sebagai manajer kelompok menyebut keberadaan Angklung Dishub Araha 52 berjalan secara sederhana. Kelompok tersebut tidak mengandalkan anggaran APBD untuk setiap penampilannya.

Dukungan justru datang dari kolaborasi dengan pihak lain maupun sponsor yang memiliki kepedulian terhadap kegiatan seni dan budaya.

“Alhamdulillah terkadang kita mendapat dukungan dari sponsor karena antusiasme panitia dan pihak-pihak yang berkolaborasi dengan kita. Minimal untuk kebutuhan snack dan sebagainya. Tanpa ada anggaran dari APBD,” ungkapnya.

Bagi Dishub Kota Sukabumi, kelompok angklung ini akhirnya menjadi ruang untuk membangun kekompakan internal sekaligus memperkenalkan sisi humanis para pegawainya kepada masyarakat.

Sementara itu, Kepala Dishub Kota Sukabumi, Iskandar Ifhan, melihat kreativitas pegawai sebagai bagian dari upaya membangun lingkungan kerja yang tidak hanya berorientasi pada rutinitas kedinasan. Menurutnya, potensi yang dimiliki pegawai perlu diberi ruang agar dapat berkembang dan memberikan manfaat lebih luas.

Keberadaan Angklung Dishub Araha 52 menjadi salah satu contohnya. Para pegawai yang setiap hari bertugas memastikan lalu lintas tetap tertib kini memiliki panggung lain untuk menyuarakan budaya.

Dari sekitar 50 pegawai yang memegang angklung, lahir sebuah pesan sederhana, menjaga ketertiban kota bukan satu-satunya cara mengabdi. Melestarikan budaya, membangun kebersamaan, dan memperkenalkan kesenian Sunda kepada masyarakat juga dapat menjadi bagian dari pengabdian.

Dan dari Jalan Arif Rahman Hakim Nomor 52, alunan angklung itu terus dimainkan menyatukan suara, langkah, dan semangat para pegawai Dishub Kota Sukabumi dalam irama budaya Sunda. (*)

Read Entire Article
Information | Sukabumi |