Latih Guru SD Hadapi TKA, Dosen UMMI Kembangkan Aplikasi AI Pemeta Kompetensi Literasi dan Numerasi SD

2 hours ago 3

RADARSUKABUMI.COM – Menyikapi berlakunya kebijakan Asesmen Nasional pada jenjang sekolah dasar (SD) tahun ini, Tim Dosen Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI) bergerak cepat dengan menghadirkan terobosan berbasis teknologi. Sebanyak 18 guru SDIT Al Khoiriyah Al Husna, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi dibekali aplikasi latihan Tes Kemampuan Akademik (TKA) berbasis Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) pada Selasa (11/8/2026).

Aplikasi canggih ini dirancang khusus untuk memetakan kemampuan awal (diagnostic assessment) siswa secara presisi, sekaligus mengoptimalkan kesiapan mereka menghadapi TKA. Pelatihan tersebut merupakan bagian dari rangkaian program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) berbasis pemberdayaan masyarakat yang berlangsung dari Mei hingga Desember 2026. Sebelumnya, Tim Dosen UMMI juga telah menggelar sosialisasi kesiapan TKA pada Rabu (10/6) dan workshop strategi pembelajaran adaptif di sekolah yang sama pada Kamis (9/7) lalu.

Menutup Celah Ketimpangan Standar Nilai

Penerapan TKA sendiri merujuk pada Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 9 Tahun 2025 dan Keputusan Mendikdasmen Nomor 95/M/2025 tentang Pedoman Penyelenggaraan TKA. Setelah menyasar jenjang SMA/SMK pada 2025, mulai tahun 2026 TKA resmi diimplementasikan di tingkat SD dan SMP, dengan fokus utama pada kemampuan literasi dan numerasi siswa kelas akhir.

Ketua Pelaksana Program sekaligus Dosen Program Studi (Prodi) Teknik Informatika UMMI, Asriyanik, M.T., menjelaskan bahwa TKA menjadi instrumen evaluasi baru bagi siswa SD secara objektif yang terstandar secara nasional. “Selama ini capaian akademik siswa hanya terbaca lewat nilai rapor yang tolok ukurnya bisa berbeda-beda antar sekolah. TKA hadir untuk menutup celah tersebut,” ungkap Asriyanik.

Perempuan ramah yang dikenal cerdas itu menekankan bahwa kunci sukses TKA tidak terletak pada latihan soal (drilling) semata, melainkan pada ketepatan pemetaan kemampuan awal anak. “Yang kami perkuat adalah cara guru mengenali kemampuan awal siswanya. Kalau titik berangkat setiap anak sudah terpetakan, maka latihan yang diberikan jadi tepat sasaran,” tuturnya.

Diferensiasi Kelas dan Sentuhan Teknologi AI

Asriyanik menjelaskan bahwa dalam kerangka TKA, literasi tidak sekadar membaca teks. Akan tetapi lebih kepada menemukan informasi, memahami isi bacaan, dan memiliki kemampuan bernalar kritis. Sementara numerasi menuntut siswa mengaplikasikan konsep matematika dalam kehidupan sehari-hari.

Menjawab tantangan tersebut, tepatnya pada Juli lalu, Dosen Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) UMMI Rifky Aditya Ramadhan, M.Pd., membekali para guru dengan strategi pembelajaran berdiferensiasi dan adaptif. Ia menekankan pentingnya asesmen diagnostik, sebelum pembelajaran dimulai.

“Satu kelas tidak pernah benar-benar seragam, pasti heterogen. Ada anak yang sudah lancar membaca pemahaman, ada yang masih tertinggal. Kalau semuanya diberi materi yang sama persis, yang lambat makin tertinggal dan yang cepat justru bosan,” kata Rifky.

Dalam pertemuan tersebut, dijelaskan Rifky, para guru dilatih menyusun materi berdiferensiasi, mulai dari variasi tingkat kesulitan bacaan, pengelompokan siswa yang fleksibel, hingga bentuk tugas yang beragam seperti laporan tertulis, poster, atau video singkat.

“Diferensiasi sering dikira menambah beban guru. Padahal yang dibutuhkan bukan membuat tiga modul berbeda, melainkan satu materi dengan tiga tingkat tantangan,” ujar Rifky.

Di sisi lain, keunggulan teknis aplikasi dipaparkan oleh Agung Pambudi, S.Kom., M.Cs., Dosen Prodi Teknik Informatika UMMI ini menjelaskan tentang cara kerja aplikasi cerdas latihan TKA yang dikembangkan tim. Aplikasi ini terbukti mampu memetakan kemampuan awal siswa, mengelompokkannya ke dalam tiga tingkat kompetensi secara otomatis, lalu memberikan rekomendasi materi yang relevan. Sistem ini telah dilengkapi dengan bank soal, berisi 100 butir materi literasi dan numerasi.

“Pekerjaan memeriksa dan mengelompokkan hasil latihan puluhan siswa bisa memakan waktu berhari-hari. Sistem ini menyelesaikannya dalam hitungan menit, lengkap dengan rekomendasi materi untuk tiap anak,” kata Agung.

Ia menegaskan, teknologi tersebut tidak dirancang menggantikan guru. “AI hanya membaca pola dari data jawaban. Yang memutuskan anak ini perlu didampingi seperti apa tetap berada di tangan gurunya, karena hanya guru yang tahu kondisi siswanya di kelas,” ujarnya.

Menuju Kemandirian Sekolah

Kepala SDIT Al Khoiriyah Al Husna, Asep Zaenudin, M.Pd., mengapresiasi penuh program ini. Menurutnya, pendampingan ini menjadi fondasi kuat bagi guru dan siswa, dalam menyongsong pelaksanaan TKA mendatang. “Kegiatan ini sangat bermanfaat sebagai persiapan menghadapi TKA tahun 2027, baik bagi guru maupun siswa kami,” katanya.

Sekadar diketahui program ini merupakan Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM), dengan skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat tahun pendanaan 2026 yang didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Selain ketiga dosen tersebut, program melibatkan empat mahasiswa Teknik Informatika UMMI.

Tahapan selanjutnya hingga Desember mendatang, program akan dilanjutkan dengan pelatihan intensif aplikasi, pengayaan bank soal oleh guru, uji coba ke siswa, dan pendampingan berkala.”Target utama kami sekolah bisa mandiri. Setelah program selesai, guru yang meneruskan program dan untuk Aplikasi Cerdas TKA dapat berkelanjutan ditingkatkan melalui program kerja praktik mahasiswa” pungkas Asriyanik. (*/rls)

Read Entire Article
Information | Sukabumi |