Aksi Sunyi Polisi Kota Sukabumi, Rumah Reyot Kini Jadi Harapan

16 hours ago 4

SUKABUMI — Di tengah hiruk-pikuk tugas kepolisian, sebuah kisah kemanusiaan lahir dari tindakan sunyi seorang anggota Polres Sukabumi Kota.

Rumah reyot milik pasangan suami istri Sobari (55) dan Yuli (48), warga Kampung Bunisari, Desa Langensari, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi, kini resmi berdiri kokoh dan layak huni berkat pengorbanan pribadi seorang polisi berpangkat Aiptu.

Pembangunan rumah tersebut, akhirnya rampung setelah dilakukan secara bertahap dengan dana pribadi sang anggota polisi.

Tak banyak yang tahu, demi memulai pembangunan, bahkan rela menjual sepeda motor kesayangannya seharga Rp5 juta. Keputusan itu, diambil bukan karena kelebihan harta, melainkan panggilan hati.

Kisah ini bermula ketika sang Aiptu, yang memilih tak mengungkapkan identitasnya, terjebak hujan deras saat melintas di pelosok kampung.

Ia berteduh di rumah Yuli, yang ternyata kondisinya nyaris roboh, berdinding rapuh, dan atap bocor di banyak sisi. Dari obrolan singkat itulah, ia mengetahui beratnya kehidupan keluarga tersebut.

“Saya tidak bisa tidur nyenyak setelah melihat langsung kondisi rumah mereka. Saya sampaikan ke istri, dan alhamdulillah beliau mendukung penuh. Dari situ saya putuskan untuk membantu sampai rumah ini benar-benar layak,” ujar anggota Polres Sukabumi Kota berpangkat Aiptu kepada Radar Sukabumi, Selasa (10/2).

Pembangunan rumah tidak berjalan instan. Prosesnya dilakukan perlahan, menyesuaikan kemampuan dana yang ia sisihkan. Namun komitmennya tak pernah surut.

Meski rumah tersebut tidak bisa mengakses bantuan pemerintah karena berdiri di atas lahan milik PTPN, tetap pembangunan berjalan hingga selesai.

“Alhamdulillah saat ini pembangunannya sudah selesai dan sudah layak huni,” paparnya.

Kini, rumah yang dulunya nyaris ambruk telah berubah menjadi bangunan sederhana namun aman dan nyaman. Dinding permanen, atap layak, serta lantai yang kokoh menjadi simbol harapan baru bagi keluarga Sobari.

Sobari, yang sehari-hari bekerja sebagai sopir angkot, tak kuasa menyembunyikan rasa haru. Dengan penghasilan pas-pasan, ia mengaku tak pernah bermimpi memiliki rumah layak.

“Kalau bukan karena beliau, mungkin sampai kapan pun rumah ini tidak akan berubah. Ini bukan sekadar rumah, tapi penyelamat hidup kami,” tuturnya lirih.

Hal serupa dirasakan Yuli. Air mata syukur mengalir saat mengenang perjuangan sang polisi yang tak pernah meminta imbalan.

“Kami hanya bisa berdoa. Allah kirimkan pertolongan lewat beliau. Kebaikan ini tidak akan kami lupakan,” ucapnya dengan suara bergetar.

Di saat banyak kisah tentang seragam yang disorot dari sisi kekuasaan, cerita ini menjadi pengingat bahwa di baliknya, masih ada polisi yang memilih menjadi manusia lebih dulu mengorbankan apa yang dimiliki demi menghadirkan keadilan dan kemanusiaan yang nyata. (Bam)

Read Entire Article
Information | Sukabumi |