Tanpa Bantuan Pemerintah, Warga Simpenan Sukabumi Bangun Tanggul Beton Rp500 Juta

20 hours ago 6

SUKABUMI – Ancaman banjir akibat luapan Sungai Ciseureuh memaksa warga Kampung Ciseureuh, Desa Sangrawayang, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, mengambil langkah luar biasa.

Tanpa menunggu uluran tangan pemerintah, warga bersama pemilik lahan berinisiatif membangun tembok penahan tanah (TPT) berbahan beton dengan biaya mencapai hampir Rp500 juta. Langkah ini dilakukan demi menyelamatkan permukiman dari abrasi dan banjir susulan.

Pembangunan TPT sempat menimbulkan beragam kabar di masyarakat. Namun, warga menegaskan bahwa konstruksi tersebut bukan dibangun di badan sungai, melainkan di lahan pribadi yang sebelumnya berupa tebing dan tergerus hebat akibat banjir besar pada 2024.

Salah seorang warga, Ruyatna, menjelaskan bahwa sebelum bencana, lokasi tersebut masih berupa tanah berbukit. Namun, derasnya luapan Sungai Ciseureuh menggerus tebing hingga menyeret fasilitas warga.
“Waktu banjir kemarin, luapannya besar sekali. MCK hanyut, kandang domba juga terbawa arus. Bahkan sekarang ada satu rumah yang hampir ikut tergerus,” ujarnya.

Ia menegaskan, pembangunan beton bertujuan mengamankan aset pribadi sekaligus melindungi warga sekitar. Setidaknya delapan rumah di Kampung Ciseureuh terancam jika tidak segera dilakukan penguatan tebing.
“Alhamdulillah sekarang sudah dibeton oleh Bos Atok atau Pak Abdul Sukin selaku pemilik lahan. Warga sangat terbantu. Kalau tidak ada tanggulan ini, mungkin rumah itu sudah hanyut,” ucapnya.

Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Desa Sangrawayang, Heris Sponga, menambahkan bahwa pembangunan TPT merupakan langkah darurat untuk mencegah dampak banjir lebih besar.
“Ini murni untuk keselamatan warga. Kalau tidak dibeton, air pasti masuk ke rumah-rumah. Termasuk rumah saya juga bisa habis,” katanya.

Heris menyebutkan, biaya pembangunan mencapai hampir Rp500 juta, seluruhnya ditanggung pihak swasta yang peduli terhadap keselamatan warga. Langkah ini diambil lantaran belum adanya solusi konkret dari pemerintah pascabanjir.

“Pemerintah sempat datang melihat kondisi, tapi belum ada solusi. Makanya ada warga yang berani berkorban untuk kepentingan bersama,” ungkapnya.

Ia juga menjelaskan bahwa alur Sungai Ciseureuh kini berubah. Jika sebelumnya jarak sungai dengan permukiman mencapai 15–20 meter, kini aliran air semakin mendekat akibat abrasi.

Menanggapi hal tersebut, Camat Simpenan, Supendi, menyampaikan apresiasi atas kepedulian masyarakat. Menurutnya, pembangunan TPT merupakan langkah nyata di tengah keterbatasan anggaran pemerintah.

“Kami sangat mengapresiasi kepedulian masyarakat. Ini bentuk gotong royong luar biasa untuk menjaga lingkungan dan keselamatan warga,” ujarnya.

Halaman: 1 2

Read Entire Article
Information | Sukabumi |