JAKARTA – Pengembangan produk berbasis probiotik terus mendapat perhatian seiring meningkatnya penelitian mengenai peran mikroorganisme bagi kesehatan. Hal tersebut menjadi salah satu bahasan dalam seminar internasional yang digelar PT Yakult Indonesia Persada bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI.
Seminar bertajuk “Probiotics: Opportunities and Challenges for Development” tersebut berlangsung secara hybrid dari Auditorium Gedung Merah Putih BPOM, Jakarta. Lebih dari 300 peserta mengikuti kegiatan yang melibatkan regulator, akademisi, peneliti, praktisi kesehatan, serta pelaku industri obat dan makanan.
Forum ini membahas perkembangan riset probiotik sekaligus peluang pemanfaatannya dalam berbagai produk, seperti pangan olahan, suplemen kesehatan, hingga sektor farmasi.
Selain aspek inovasi, para peserta juga membahas pentingnya landasan ilmiah, pemenuhan ketentuan regulasi, serta standar keamanan dan mutu sebelum suatu produk probiotik dikembangkan dan dipasarkan kepada masyarakat.
Presiden Direktur PT Yakult Indonesia Persada, Toshiyuki Iwamoto, mengatakan perusahaan berupaya berkontribusi terhadap peningkatan kesehatan masyarakat melalui pengembangan dan pemanfaatan probiotik LcS (*Lactobacillus casei* strain Shirota).

Ia menyebut kerja sama dengan BPOM menjadi bagian dari upaya memperluas pemahaman masyarakat mengenai probiotik sekaligus memastikan pengembangannya tetap memperhatikan aspek keamanan dan kualitas.
“Yakult berkomitmen untuk terus memperkuat kerja sama dengan BPOM demi memastikan probiotik menjadi bagian yang lebih dekat dalam kehidupan masyarakat, serta terus berkontribusi bagi kesehatan dan kebahagiaan seluruh masyarakat Indonesia,” ujar Toshiyuki.
Kepala BPOM RI Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Pharm., MD., Ph.D., menilai pengembangan inovasi di bidang probiotik membutuhkan sinergi berbagai pihak.
Menurutnya, regulator, perguruan tinggi, peneliti, dan industri memiliki peran masing-masing dalam memastikan inovasi yang dikembangkan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Kolaborasi tersebut, kata Taruna, sejalan dengan konsep ABG (*Academia, Business, Government*) yang menempatkan akademisi, dunia usaha, dan pemerintah sebagai unsur penting dalam membangun inovasi berbasis ilmu pengetahuan.
Pakar Bahas Perkembangan Probiotik
Sejumlah pakar dari Jepang dan Indonesia turut memberikan materi dalam seminar tersebut.
Masanobu Nanno, Ph.D., Advisor Yakult Central Institute, Jepang, membahas perkembangan penelitian mengenai mikrobiota usus. Materinya antara lain menjelaskan bagaimana bakteri probiotik berinteraksi dengan lingkungan usus dan berperan dalam menjaga keseimbangan mikroorganisme.
Sementara itu, Takuya Akiyama, Ph.D., Science Researcher Yakult Central Institute, Jepang, mengulas perkembangan penelitian probiotik di tingkat global. Ia juga membahas hubungan antara kondisi mikrobiota usus dengan kesehatan tubuh serta perkembangan aplikasi probiotik di berbagai negara.
Dari Indonesia, Prof. Dr. Ir. Lilis Nuraida, M.Sc. dari Institut Pertanian Bogor membahas peluang pengembangan probiotik dengan memanfaatkan kekayaan mikroorganisme lokal.
Indonesia memiliki beragam makanan fermentasi tradisional yang berpotensi menjadi sumber Bakteri Asam Laktat (BAL). Namun, potensi tersebut tetap perlu melalui penelitian dan pengujian secara menyeluruh.
Identifikasi strain, manfaat, efektivitas, serta aspek keamanan menjadi bagian penting dalam proses pengembangan sebelum suatu mikroorganisme dapat digunakan sebagai bahan probiotik dan mendukung pencantuman klaim kesehatan.
Melalui kegiatan tersebut, Yakult Indonesia dan BPOM berharap kolaborasi antara pemerintah, akademisi, peneliti, serta industri dapat semakin memperkuat pengembangan produk probiotik yang berlandaskan bukti ilmiah.
Penguatan riset dan regulasi diharapkan mampu menghasilkan produk pangan dan kesehatan berbasis probiotik yang aman, berkualitas, inovatif, serta mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.
Perjalanan Yakult di Indonesia
Yakult dikembangkan dari penelitian Dr. Minoru Shirota di Jepang. Pada 1930, ia berhasil mengembangkan bakteri LcS yang kemudian menjadi dasar produk minuman fermentasi Yakult.
Produk tersebut mulai diproduksi pada 1935 dan selanjutnya berkembang ke berbagai negara. Saat ini, Yakult telah hadir di sekitar 40 negara dan wilayah.
Di Indonesia, kegiatan produksi dan pemasaran Yakult dimulai pada Januari 1991. Lebih dari tiga dekade kemudian, Yakult Indonesia memiliki dua fasilitas produksi yang berlokasi di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, dan Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.
Kedua fasilitas tersebut mendukung kebutuhan distribusi Yakult melalui jaringan cabang di berbagai wilayah Indonesia. Perusahaan juga memberikan kesempatan kerja bagi ribuan karyawan dan melibatkan ribuan Yakult Lady sebagai agen di lingkungan tempat tinggal masyarakat. (*)






























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5554154/original/075633800_1776061310-KAI_Acces.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5566130/original/037654700_1777115193-Nnicgi2v3KAezF9tDS92s4.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5557540/original/022217200_1776334209-1_-_HUAWEI_Mate_80_Pro.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5579725/original/015072000_1778068987-IMG_8757.jpeg)



