Mengenang Apa Lili: Wali Masthūr dan Hikmah Angka 29

5 days ago 23

SUKABUMI — Makna Haol ke-29 KH. Muhamad Kholilullah (Apa Lili) dalam Ilmu Falakiyah dan Tasawuf

Haol ke-29 KH. Muhamad Kholilullah atau yang akrab disapa Apa Lili digelar pada 7 Februari 2026 di Komplek Pesantren Sirojul Athfal. Acara berlangsung sejak pagi hingga tepat pukul 00.00 WIB, dihadiri para alumni mutaqaddimin dan mutaakhirin serta masyarakat dari berbagai daerah.

Dua puluh sembilan tahun sejak wafatnya Apa Lili bukan sekadar hitungan waktu. Dalam perspektif ilmu falakiyah dan tasawuf, angka 29 memiliki makna batin yang mendalam. Dalam kalender qamariyah, 29 hari menandai siklus bulan yang hampir sempurna sebelum genap 30. Fase ini disebut istikmāl qabla al-ẓuhūr—kesempurnaan sebelum penampakan. Imam al-Bīrūnī menegaskan bahwa siklus waktu bukan hanya gerak benda langit, tetapi juga mengandung hikmah tentang tajallī (penampakan) dan ihtijab (tertutupnya cahaya).

Gus Faiq Kholilullah, cicit Apa Lili, menjelaskan bahwa angka 29 dipahami sebagai kesempurnaan batin yang tidak ditampakkan secara lahir, kecuali kepada para muhibbin—mereka yang mencintai dengan adab dan kesadaran ruhani. Hal ini sejalan dengan pandangan Syekh ‘Abdul Wahhab as-Sya‘rānī dalam al-Ṭabaqāt, bahwa banyak orang memperoleh faidh (limpahan ruhani) bukan karena baiat, melainkan karena cinta dan adab.

Ketua Panitia Haol, Ustadz Aah Abdulkarim, menuturkan bahwa ia sering merasakan faidh dan barokah dari Apa Lili. Menurutnya, karomah Apa Lili nyata, terutama saat menghadapi kesulitan, di mana pertolongan Allah selalu datang di “injury time”.

Apa Lili dikenal sebagai wali masthūr—wali yang menyembunyikan kewaliannya. Meski memiliki banyak karomah dan sanad ilmu hingga Rasulullah SAW, beliau hidup sederhana, tidak mengejar dunia, hanya mengharap ridha Allah SWT. Imam al-Qusyairi dalam al-Risālah al-Qusyairiyyah menegaskan bahwa wali masthūr adalah mereka yang tidak dikenal manusia, sebagaimana ungkapan, “Auliyā’ Allāh berada di bawah kubah-kubah-Ku, tidak ada yang mengenal mereka selain Aku.”

Kisah kewalian Apa Lili juga tercermin dalam peristiwa tongkat misterius. Dikisahkan, beliau menerima sebuah tongkat dari seorang lelaki tua yang tidak dikenal saat berdakwah di Kampung Segog, Cibadak. Lelaki itu menyerahkan tongkat rotan unik lalu menghilang tanpa jejak. Sejak itu, tongkat tersebut menjadi amanah yang tidak pernah beliau berikan kepada siapapun, meski beberapa tokoh sufi mencoba memintanya.

Dalam literatur tasawuf klasik, perjumpaan dengan sosok misterius sering dipahami sebagai isyarah pertemuan dengan Nabi Khidir. Kisah tongkat Apa Lili pun dimaknai sebagai pertolongan Allah yang bekerja secara sunyi, sejalan dengan maqam wali masthūr. Pesan yang ditinggalkan bukanlah keajaiban benda, melainkan pelajaran tentang tawadhu’, khidmah, dan keteguhan berjalan di jalan Allah tanpa suara. (*)

Read Entire Article
Information | Sukabumi |