Fimela.com, Jakarta - Kebiasan ibu memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk rutinitas belajar anak sejak usia dini, karena berbagai aktivitas sederhana yang dilakukan setiap hari dapat memengaruhi kemampuan anak dalam mengatur perhatian, mengelola emosi, hingga membangun semangat untuk mengikuti pelajaran di sekolah tanpa merasa tertekan atau mudah terdistraksi oleh hal-hal di sekitarnya.
Banyak orang tua mengira bahwa kemampuan fokus hanya dipengaruhi oleh kecerdasan anak, padahal lingkungan di rumah dan pola pengasuhan sehari-hari juga memberikan dampak yang tidak kalah penting terhadap perkembangan konsentrasi. Oleh karena itu, memahami berbagai kebiasan ibu yang mendukung proses belajar dapat menjadi langkah sederhana untuk membantu anak lebih siap menerima pelajaran, menyelesaikan tugas dengan baik, dan menikmati proses belajar setiap harinya.
1. Membuat Jadwal Belajar yang Konsisten
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5526497/original/043814700_1773124088-pexels-gustavo-fring-3985033.jpg)
Menetapkan jadwal belajar pada waktu yang sama setiap hari membantu anak membangun rutinitas yang teratur sehingga otak akan lebih mudah mengenali kapan saatnya bermain, beristirahat, dan kapan waktunya memberikan perhatian penuh terhadap materi pelajaran yang sedang dipelajari di rumah maupun sebagai persiapan sebelum berangkat ke sekolah.
Ketika jadwal belajar dilakukan secara konsisten tanpa sering berubah, anak juga akan lebih mudah menyesuaikan diri dengan ritme kegiatan hariannya sehingga waktu belajar terasa sebagai bagian dari kebiasaan, bukan sebagai beban. Kebiasan ibu dalam menjaga konsistensi jadwal tersebut secara perlahan membentuk disiplin yang membuat anak lebih siap berkonsentrasi saat guru menjelaskan pelajaran di kelas.
2. Membatasi Penggunaan Gadget Sebelum Belajar
Penggunaan gadget dalam waktu yang terlalu lama, terutama untuk menonton video pendek atau bermain gim, dapat membuat perhatian anak lebih mudah berpindah sehingga ketika waktu belajar tiba mereka memerlukan waktu lebih lama untuk kembali berkonsentrasi pada buku atau materi yang sedang dipelajari.
Ibu dapat membuat aturan sederhana mengenai kapan anak boleh menggunakan gadget dan kapan perangkat tersebut harus disimpan agar proses belajar berlangsung lebih tenang tanpa gangguan notifikasi maupun keinginan untuk terus melihat layar. Kebiasan ibu dalam menerapkan aturan yang konsisten juga membantu anak belajar mengendalikan diri serta memahami pentingnya membagi waktu antara hiburan dan kewajiban belajar.
3. Menyediakan Tempat Belajar yang Nyaman
Lingkungan belajar yang bersih, memiliki pencahayaan yang cukup, sirkulasi udara yang baik, serta bebas dari kebisingan dapat membantu anak mempertahankan perhatian lebih lama dibandingkan belajar di tempat yang penuh gangguan atau sering dilalui anggota keluarga lainnya.
Tidak harus memiliki ruang belajar khusus, karena meja sederhana yang tertata rapi juga sudah cukup untuk mendukung konsentrasi anak selama belajar. Selain itu, ibu dapat mengajak anak merapikan meja setelah selesai belajar agar suasana tetap nyaman setiap kali digunakan, sekaligus menanamkan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan belajarnya sendiri.
4. Mengajak Anak Membaca Setiap Hari
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5526498/original/067524800_1773124090-pexels-olly-3887445.jpg)
Membaca buku selama beberapa menit setiap hari merupakan salah satu cara efektif untuk melatih kemampuan anak mempertahankan perhatian dalam waktu yang lebih panjang karena mereka terbiasa mengikuti alur cerita, memahami isi bacaan, dan membayangkan berbagai informasi yang diterima dari buku.
Kegiatan membaca juga memperkaya kosakata, meningkatkan kemampuan memahami instruksi, dan membantu anak lebih mudah mengikuti pelajaran di sekolah karena mereka sudah terbiasa menyerap informasi secara bertahap. Kebiasan ibu yang mengajak anak membaca bersama setiap hari juga menciptakan momen berkualitas yang mempererat hubungan antara orang tua dan anak sambil menumbuhkan minat belajar sejak dini.
5. Memberikan Sarapan Bergizi
Sarapan merupakan sumber energi pertama yang digunakan tubuh dan otak setelah beristirahat semalaman, sehingga anak yang memperoleh asupan gizi seimbang pada pagi hari cenderung lebih siap mengikuti pelajaran, memiliki daya ingat yang lebih baik, serta tidak mudah merasa lelah ketika harus memperhatikan penjelasan guru dalam waktu yang cukup lama di kelas.
Menu sarapan tidak harus mahal atau rumit, tetapi sebaiknya mengandung karbohidrat, protein, serat, serta cairan yang cukup agar kebutuhan nutrisi anak terpenuhi sebelum memulai aktivitas belajar. Kebiasan ibu dalam menyiapkan sarapan sehat secara rutin juga mengajarkan pentingnya menjaga pola makan yang baik sebagai bagian dari kebiasaan hidup sehat yang mendukung prestasi belajar.
6. Memastikan Anak Tidur Cukup
Waktu tidur yang cukup memberikan kesempatan bagi otak untuk memproses informasi yang telah dipelajari sepanjang hari sekaligus memulihkan energi sehingga anak dapat bangun dengan tubuh yang lebih segar, suasana hati yang lebih baik, dan kemampuan berkonsentrasi yang lebih optimal ketika mengikuti kegiatan belajar di sekolah.
Ibu dapat membantu anak memiliki pola tidur yang teratur dengan menetapkan jam tidur dan jam bangun yang konsisten setiap hari, termasuk pada akhir pekan agar ritme biologis tubuh tetap terjaga. Kebiasaan sederhana ini juga dapat mengurangi risiko anak mengantuk saat pelajaran berlangsung sehingga mereka lebih mudah memahami materi yang diajarkan guru.
7. Mengurangi Belajar dengan Cara Menghafal
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4771065/original/068235200_1710317271-IMG_1701.jpeg)
Tidak semua materi pelajaran akan mudah dipahami jika hanya dihafalkan, karena anak juga perlu diajak berpikir, bertanya, dan menghubungkan materi dengan pengalaman sehari-hari agar mereka memahami konsep yang dipelajari secara lebih mendalam serta mampu mengingatnya dalam jangka waktu yang lebih lama.
Ibu dapat mengajak anak berdiskusi setelah belajar, meminta mereka menjelaskan kembali materi dengan bahasa sendiri, atau memberikan contoh sederhana yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Pendekatan seperti ini membuat proses belajar terasa lebih menyenangkan sekaligus melatih kemampuan berpikir kritis yang sangat bermanfaat bagi perkembangan akademik anak.
8. Memberikan Pujian atas Usaha, Bukan Hanya Nilai
Anak yang hanya dipuji ketika memperoleh nilai tinggi sering kali merasa takut melakukan kesalahan, padahal proses belajar membutuhkan keberanian untuk mencoba, bertanya, dan memperbaiki kekurangan. Oleh karena itu, memberikan apresiasi terhadap usaha yang dilakukan anak akan membantu membangun rasa percaya diri dan semangat belajar yang lebih sehat.
Ketika ibu menghargai kerja keras anak meskipun hasilnya belum sempurna, anak akan merasa bahwa proses belajar lebih penting daripada sekadar mengejar angka di rapor. Kebiasan ibu dalam memberikan dukungan positif seperti ini juga membantu mengurangi tekanan psikologis sehingga anak lebih nyaman berkonsentrasi dan tidak mudah menyerah saat menghadapi pelajaran yang dianggap sulit.
9. Melatih Anak Menyelesaikan Satu Tugas Sekaligus
Kemampuan untuk fokus pada satu pekerjaan merupakan keterampilan yang perlu dilatih sejak kecil karena anak yang terbiasa mengerjakan beberapa aktivitas sekaligus sering kali membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan tugas dan lebih mudah kehilangan perhatian terhadap hal yang sedang dikerjakan.
Ibu dapat membimbing anak menyelesaikan pekerjaan secara bertahap, misalnya mengerjakan pekerjaan rumah satu mata pelajaran hingga selesai sebelum berpindah ke tugas berikutnya. Cara sederhana ini membantu anak memahami pentingnya konsentrasi penuh terhadap satu tanggung jawab sehingga hasil belajar menjadi lebih maksimal.
10. Mengajak Anak Bergerak atau Berolahraga Ringan
![Tips Olahraga 10 Menit Ibu & Anak, Cara Tetap Aktif di Tengah Kesibukan [Dok/freepik.com]](https://cdn0-production-images-kly.akamaized.net/pOef_IeipRJHi5gRuChonhaxp9s=/640x360/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5453108/original/082133100_1766470005-full-shot-adult-kid-holding-dumbbells.jpg)
Aktivitas fisik seperti berjalan santai, bermain di halaman, bersepeda, atau melakukan peregangan ringan dapat membantu meningkatkan aliran darah ke otak sehingga tubuh menjadi lebih segar dan anak lebih siap menerima informasi baru ketika kembali belajar di rumah maupun di sekolah.
Olahraga juga membantu mengurangi rasa bosan akibat terlalu lama duduk serta mendukung kesehatan fisik dan mental anak secara keseluruhan. Kebiasan ibu yang mengajak anak bergerak sebelum atau sesudah belajar dapat menjadi cara sederhana untuk menjaga keseimbangan antara aktivitas fisik dan kegiatan akademik sehingga konsentrasi anak tetap terjaga.
11. Mengajarkan Anak Mengatur Waktu Istirahat
Belajar tanpa jeda dalam waktu yang terlalu lama sering kali membuat otak anak merasa lelah sehingga kemampuan menyerap informasi akan menurun, karena konsentrasi memiliki batas tertentu yang perlu diimbangi dengan waktu istirahat agar pikiran kembali segar sebelum melanjutkan materi berikutnya.
Ibu dapat mengenalkan pola belajar yang diselingi istirahat singkat, misalnya belajar selama 25 hingga 30 menit kemudian beristirahat sekitar lima menit untuk minum, melakukan peregangan, atau berjalan sebentar di sekitar rumah. Kebiasan ibu dalam membimbing anak mengatur ritme belajar seperti ini membantu menjaga semangat sekaligus mencegah kejenuhan yang dapat mengurangi fokus selama belajar.
12. Menjadi Contoh Kebiasaan Belajar yang Baik
Anak merupakan peniru yang sangat baik sehingga apa yang dilakukan orang tua setiap hari sering kali lebih berpengaruh dibandingkan nasihat yang hanya diucapkan. Ketika ibu memiliki kebiasaan membaca buku, mencari informasi baru, atau mengerjakan pekerjaan dengan penuh tanggung jawab, anak akan melihat bahwa belajar adalah aktivitas yang bernilai dan menyenangkan.
Memberikan teladan jauh lebih efektif daripada sekadar meminta anak rajin belajar tanpa menunjukkan contoh yang sama di rumah. Saat anak melihat ibu menikmati proses membaca atau mempelajari keterampilan baru, mereka akan terdorong untuk memiliki rasa ingin tahu yang tinggi sehingga kegiatan belajar tidak lagi dianggap sebagai kewajiban yang membosankan.
13. Mengurangi Tekanan Berlebihan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4598468/original/048272600_1696412875-pexels-ketut-subiyanto-4473774.jpg)
Setiap anak memiliki kemampuan belajar yang berbeda sehingga membandingkan mereka dengan teman atau saudara justru dapat memunculkan rasa minder, cemas, bahkan kehilangan motivasi untuk berusaha lebih baik. Suasana belajar yang penuh tekanan juga membuat anak sulit berkonsentrasi karena pikirannya dipenuhi rasa takut melakukan kesalahan.
Sebaliknya, ibu dapat memberikan dukungan dengan cara mendengarkan kesulitan yang dialami anak, memberikan semangat ketika hasil belajar belum sesuai harapan, serta membantu mencari solusi tanpa menyalahkan. Pendekatan yang penuh empati membuat anak merasa lebih aman secara emosional sehingga mereka lebih percaya diri dalam mengikuti pelajaran dan berani mencoba memahami materi yang dianggap sulit.
14. Mengajak Anak Menceritakan Kegiatan di Sekolah
Mengobrol mengenai pengalaman anak di sekolah setiap hari bukan hanya mempererat hubungan antara ibu dan anak, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mengulang kembali materi yang telah dipelajari sehingga informasi yang diterima di kelas semakin melekat dalam ingatan jangka panjang.
Ibu dapat mengajukan pertanyaan sederhana seperti pelajaran apa yang paling disukai hari itu, hal baru apa yang dipelajari, atau bagian mana yang masih membingungkan. Dari percakapan tersebut, ibu dapat mengetahui kebutuhan belajar anak sekaligus memberikan pendampingan yang lebih tepat agar mereka semakin percaya diri mengikuti pelajaran pada hari berikutnya.
15. Membiasakan Anak Menyiapkan Keperluan Sekolah Sejak Malam
Persiapan yang dilakukan pada malam hari membantu mengurangi kepanikan ketika pagi tiba karena tas sekolah, buku pelajaran, seragam, hingga perlengkapan lainnya sudah tersedia dan tidak perlu dicari secara terburu-buru sebelum berangkat ke sekolah.
Rutinitas sederhana tersebut juga mengajarkan anak tentang pentingnya tanggung jawab, perencanaan, dan disiplin sejak usia dini. Kebiasan ibu yang selalu mengingatkan anak menyiapkan kebutuhan sekolah sejak malam hari akan menciptakan suasana pagi yang lebih tenang sehingga anak berangkat ke sekolah dengan pikiran yang lebih siap untuk belajar.
16. Menjaga Komunikasi yang Positif dengan Guru
Hubungan yang baik antara ibu dan guru memungkinkan kedua belah pihak saling berbagi informasi mengenai perkembangan belajar, kebiasaan di kelas, maupun tantangan yang sedang dihadapi anak sehingga langkah pendampingan di rumah dapat disesuaikan dengan kebutuhan mereka secara lebih efektif.
Komunikasi yang dilakukan secara terbuka dan saling menghargai juga membantu ibu mengetahui potensi yang dimiliki anak maupun aspek yang masih perlu ditingkatkan. Dengan dukungan yang selaras antara rumah dan sekolah, anak akan merasa mendapatkan perhatian yang positif dari lingkungan sekitarnya sehingga lebih termotivasi untuk belajar, menjaga konsentrasi, dan mencapai hasil akademik yang semakin baik.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Kebiasaan Ibu yang Membuat Anak Cepat Fokus pada Pelajaran Sekolah
1. Bagaimana cara membuat anak lebih fokus saat belajar?
Mulailah dengan membuat jadwal belajar yang konsisten, menyediakan tempat belajar yang nyaman, membatasi penggunaan gadget sebelum belajar, serta memastikan anak mendapatkan tidur dan asupan gizi yang cukup.
2. Apakah penggunaan gadget memengaruhi konsentrasi anak?
Ya, penggunaan gadget yang berlebihan, terutama sebelum belajar, dapat membuat perhatian anak lebih mudah teralihkan sehingga mereka memerlukan waktu lebih lama untuk kembali fokus pada pelajaran.
3. Mengapa sarapan penting sebelum anak berangkat ke sekolah?
Sarapan memberikan energi bagi otak dan tubuh sehingga anak lebih siap mengikuti pelajaran, lebih mudah berkonsentrasi, serta tidak cepat merasa lelah selama berada di kelas.
4. Berapa lama waktu belajar yang ideal untuk anak di rumah?
Waktu belajar dapat disesuaikan dengan usia anak, tetapi umumnya belajar selama 25–30 menit yang diselingi istirahat singkat sudah cukup efektif untuk menjaga konsentrasi.
5. Apakah orang tua perlu berkomunikasi dengan guru?
Perlu. Komunikasi yang baik dengan guru membantu orang tua mengetahui perkembangan akademik, kebiasaan belajar, serta kendala yang dihadapi anak sehingga pendampingan di rumah menjadi lebih tepat sasaran.
Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8349360/original/019716000_1782223123-jendela_2.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9302178/original/013251100_1784536216-HL_taman.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4764690/original/056553200_1709782989-yellow-flower-with-background-yellow-flowers-out-focus.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3912122/original/042414300_1642930997-pexels-andrea-piacquadio-5047262_1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5380819/original/067063100_1760434364-sssssw.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9301763/original/017310200_1784516984-331056c6-35cb-4f5f-bbe0-9c225f86c475.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5386748/original/030282500_1761022620-mother-scolding-her-daughter-living-room.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4896465/original/029222600_1721444447-young-female-smiling-covering-eye-with-sunflower.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9299718/original/009539900_1784271876-8.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5521845/original/000960300_1772701581-open_space_4a.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9301084/original/091544200_1784437858-HL_dapur_desa.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9301043/original/007821800_1784435215-510d4509-88d9-4dce-b966-d246d8a26ded.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9300981/original/013324600_1784431548-b59f4171-0964-40be-b4be-d2542337438f.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5221091/original/034307600_1747301139-cat_rumah_warna_biru.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5567786/original/081108600_1777337413-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5581341/original/079805800_1778127846-area_bar.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9300026/original/053326500_1784284298-8a41310a-b11d-4a63-b73f-915d54b9a727.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9299818/original/051057400_1784276031-cover.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8260555/original/006952200_1781601488-2702873488484294304.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9299454/original/070078200_1784258033-pagar_tanaman_rimbun_fix.jpeg)











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5554154/original/075633800_1776061310-KAI_Acces.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5566130/original/037654700_1777115193-Nnicgi2v3KAezF9tDS92s4.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5188955/original/071492400_1744719603-pet-lifestyle-together-with-owner.jpg)






:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5557540/original/022217200_1776334209-1_-_HUAWEI_Mate_80_Pro.jpg)








